Jumat, 25 April 2014

Penderita HIV/AIDS


Agar Penderita HIV AIDS Panjang Umur



Meski penyakit ini belum bisa diobati, penderita HIV AIDS masih bisa optimistis menjalani hidupnya. Ada beberapa cara yang bisa dilakukan penderita HIV agar umurnya panjang.

Pada kebanyakan kasus memang setelah dinyatakan positif terkena HIV ada masa 5-10 tahun virus ini benar-benar bisa ‘melumpuhkan’ penderitanya. Tapi banyak pula penderita HIV AIDS yang bisa berumur panjang.
Caranya selain melakukan terapi ARV (Antiretroviral) seumur hidup dan tepat waktu juga melalui asupan gizi yang baik dan tepat.
“Asupan gizi yang baik pada ODHA bisa membantu tubuh untuk membangun sel kekebalan tubuh yang dikenal dengan sel CD4,” ujar Dr Paul F Matulessy MN, PGK, DSpGK dalam acara temu media dan buka bersama Komisi Penanggulangan AIDS Provinsi DKI Jakarta di Jakarta, Selasa (31/8/2010).
Gizi terdiri dari dua jenis yaitu kelompok makro nutrien yang terdiri dari karbohidrat, protein dan juga lemak. Dan satu lagi kelompok mikro nutrien yang terdiri dari vitamin, mineral dan air.
Setiap makronutrien yang masuk ke dalam tubuh akan diubah menjadi kalori, misalnya 1 gram karbohidrat dan protein akan menghasilkan 4 kalori, sedangkan 1 gram lemak menghasilkan 9 kalori.
Dr Paul menuturkan bahwa ODHA tidak meninggal karena virus yang ada di tubuhnya, melainkan karena adanya IO (infeksi opportunitis).
IO ini akan muncul jika seseorang memiliki nilai CD4 yang rendah, sehingga salah satu cara untuk mencegah IO atau menjaga kekebalan tubuhnya adalah dengan mengonsumsi asupan gizi yang baik.
IO sendiri adalah infeksi-infeksi yang sebenarnya tidak membuat seseorang sakit, atau pada orang yang sehat infeksi ini mungkin tidak berbahaya. Tapi bagi ODHA infeksi-infeksi ini bisa berbahaya dan IO bisa membuat status gizi seorang ODHA menjadi semakin rendah.
Pada ODHA, jika asupan gizinya baik maka akan memberikan kesempatan bagi tubuh untuk membangun kembali CD4 sehingga sistem kekebalan tubuhnya akan meningkat.
Nilai CD4 yang tinggi akan membuat seorang ODHA sehat dan tidak terlihat seperti orang yang sakit. Selain itu dengan nilai CD4 yang tinggi akan membuatnya terhindar dari IO.
“Asupan kalori pada ODHA berbeda dengan orang sehat, terutama jika ia memiliki IO. Karena setiap 1 IO yang dimilikinya, maka ia harus menambahkan 5-10 persen dari asupan kalori yang dibutuhkannya dalam satu hari,” ungkap dokter spesialis gizi klinis di RS UKI.
Dr Paul menuturkan gabungan antara penggunaan ARV yang teratur dan tepat waktu dengan asupan gizi yang baik harus dilakukan terus menerus. Karena ARV akan mencegah virus masuk ke dalam sel CD4 sedangkan makanan bergizi akan membantu tubuh membentuk CD4 lebih banyak.
Sementara itu dr Aritha Herawati selaku Kepala Bidang Terapi rehabilitasi di KPA Provinsi DKI Jakarta menuturkan ada 5 prinsip ODHA, yaitu:
  1. Mengubah perilakunya menjadi lebih baik, seperti kurangi begadang dan berhenti merokok.
  2. Mengubah pola makan yaitu dengan mengonsumsi makanan yang bergizi.
  3. Mengonsumsi ARV secara teratur dan tepat waktu.
  4. Melakukan penanganan terhadap infeksi dengan baik, jika menemukan adanya infeksi maka segera berobat.
  5. Dukungan dari keluarga dan juga masyarakat sekitar, dalam hal ini masyarakat harus mengerti dan mensupport ODHA sehingga tidak perlu ada stigma.

Kamis, 24 April 2014

HIV/AIDS di wilayah Indonesia


Tiap Bulan, Penderita HIV/AIDS 
Di Manado Bertambah

MANADO - Jumlah penderita HIV-AIDS Manado kian memperihatinkan. Data yang diperoleh dari Komite Penanggulangan AIDS (KPA) Manado, dari tahun ke tahun terus bertambah. Sejak 1997 sampai Desember 2013 sudah 539 penderita.
Menurut pengelola program KPA Manado, Sonny Winda,  penderita berasal dari kelompok pekerja swasta, serta karyawan dan wiraswasta itu.
"Itu nomor satu terbanyak. Dan nomor dua terbanyak yakni IRT, dan itu yang paling mengkawatirkan. Ada kemungkinan IRT bisa hamil, tapi dia tidak tahu kalau dalam dirinya sudah ada virus, dan imbasnya pada anaknya nanti yang pasti akan tetular," ungkap Sonny seperti dilansir Manado Pos (JPNN Grup) Kamis (24/4).
Menurutnya, banyak orang yang tertular karena prilaku seks yang salah, terutama yang melakulan hubungan seks dengan cara berisiko. Seperti berganti-ganti pasangan, dan itu faktor tertinggi di Sulut


6 Mahasiswa Kediri 
Terinfeksi HIV/AIDS


KEDIRI - Virus HIV/AIDS menyebar di kalangan pelajar dan mahasiswa di Kabupaten Kediri. Selama tiga tahun terakhir, sudah enam orang di kalangan tersebut yang terinfeksi.
Perinciannya, 2 orang pada 2011, 1 orang pada 2012, dan 3 orang pada 2013. “Pada 2014 belum terdeteksi. Belum terjangkau,” ujar Kepala Dinkes Kabupaten Kediri Adi Laksono yang diwakili Kasi Pemberantasan Penyakit Menular Langsung (P2ML) Nur Munawaroh seperti dilansir Jawa Pos Radar Kediri hari ini.
Menurut dia, penularan HIV/AIDS di kalangan mahasiwa dan pelajar itu terjadi melalui hubungan seks bebas. Terutama yang masuk dalam kelompok biseksual dan homoseksual. “Dua itulah yang mendominasi,” katanya.
Meski begitu, menurut dia, yang tergolong heterokseksual belum tentu terbebas. Terutama yang masuk dalam kelompok risiko tinggi (risti). Misalnya, pengguna jarum suntik, pekerja seks komersial (PSK) dan pelanggannya, serta pelaku hubungan seksual yang sering bergonta-ganti pasangan.
Nur menyatakan, kelompok homoseksual mencapai 6 persen dari total 584 kasus yang terdeteksi selama ini. Kelompok biseksual mencapai 4 persen. Sisanya adalah heteroseksual yang masuk kelompok risti dengan 86 persen. “Lainnya bisa melalui perinatal atau transfusi darah,” ujarnya.
Untuk mendeteksi penyebaran virus mematikan tersebut, dinkes berharap masyarakat secara sukarela memeriksakan diri ke klinik voluntary counselling and testing (VCT) yang tersedia. Kerahasiaan identitas mereka pasti dijaga.
Karena itu, dinkes bekerja sama dengan LSM untuk aktif melakukan sosialisasi. Terutama kepada kelompok-kelompok risti. Biasanya, dilakukan pengambilan sampel darah mereka di lokasi. “Kalau bisa dideteksi lebih awal, bisa segera dicarikan penanganannya,” ungkapnya.
Namun, pengambilan sampel darah itu belum bisa dilakukan di kampus atau sekolah. “Agak berat. Ada yang menolak untuk dites,” ujarnya. Yang bisa dilakukan adalah melakukan sosialisasi agar tidak berhubungan seks di luar nikah, apalagi bergonta-ganti pasangan.


Ekspatriat Dituding Turut 
Tularkan Virus HIV/AIDS


CILEGON - Ketua Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kota Cilegon, Edi Ariadi mengatakan warga kota itu semakin rawan terinfeksi virus HIV/AIDS. Selain dari pekerja seks komersial (PSK), narkoba, penyebaran virus mematikan itu juga bisa disebarkan oleh warga asing atau ekspatriat yang semakin marak bekerja di kota itu. 
"Kota Cilegon ini rawan penyebaran HIV/AIDS. Sebab selain daerah transit antarpulau, juga merupakan lumbung industri. Terlebih ekspatriat banyak di sini. Termasuk warga Korea yang datang ke Kota Cilegon mungkin saja ada yang terinfeksi HIV/AIDS. Oleh sebab itu harus terus diawasi," terang Edi Ariadi yang juga Wakil Wali Kota Cilegon dalam kunjungan tim assistensi KPA Provinsi Banten ke Kota Cilegon, Rabu (29/1).
      
Edi juga menjelaskan, pengawasan tersebut dengan cara terus melakukan sosialisasi bahaya penularan HIV/AIDS dan pemeriksaan di titik-titik yang menjadi ancaman penyebarannya, seperti tempat hiburan malam.
"Memang persoalan penyebaran HIV bukan hanya dari warga Korea, tetapi juga dari perempuan kita (pribumi) yang mungkin menawarkan diri," katanya juga. 
Karena itu, dia mengaku akan mencegah kemungkinan tersebarnya virus HIV/AIDS dengan cara terus melakukan pemeriksaan kepada para pekerja seks. "Intinya kerja penanggulangan HIV/AIDS di Kota Cilegon harus banyak terjun langsung ke masyarakat," tuturnya.
      
Sementara itu, Ketua Tim Asistensi KPA Provinsi Banten dr Santoso Edi Budiono, mengatakan sesuai hasil rapat kerja tahun 2014, penanggulangan HIV/AIDS lebih mendahulukan pencegahan dari pada pengobatan. "Disepakati, yang perlu kita lakukan penanggulangan HIV/AIDS adalah pencegahan, pencegahan dan pencegahan. Baru setelah itu pengobatan," katanya.
    
Sementara itu, Kepala Dinkes Kota Cilegon dr Arriadna, mengatakan, kelompok berisiko HIV/AIDS adalah PSK, ibu rumah tangga (IRT), waria dan pelanggan PSK. 
"Sebenarnya semua orang berisiko. Untuk profesi berisiko selain ekpatriat, sopir truk bahkan juga karyawan perusahaan. Makanya kita beberapa kali melakukan sosialisasi untuk karyawan dan ada juga perusahaan yang mengundang kita untuk sosialisasi tentang ini. Intinya hati-hati," ujarnya. 
Berdasarkan data Dinkes Kota Cilegon, jumlah kasus HIV/AIDS di Kota Cilegon hingga tahun 2013 tercatat sebanyak 326 kasus yang tersebar di seluruh kecamatan. Virus HIV menginfeksi warga Kota Cilegon sejak 2005 silam. Dari data tersebut, warga yang terpapar virus HIV mencapai 229 kasus dan sudah terjangkit AIDS sebanyak 97 orang yang 69 orang di antaranya meninggal dunia.
      
Di bagian lain, PIt KepaIa Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (DKCS) Kota Cilegon, Taufiqurrahman mengatakan akan segera mengambil langkah operasi yustisia atau kependudukan di wiIayah itu guna mencegah terjadinya penularan HIV. 
"Pada Maret nanti kami akan terjun ke kecamatan-kecamatan untuk sosialisasi kependudukan. Untuk operasi yustisia mungkin bisa dilakukan setelah itu termasuk menyasar warga asing," ujar Taufik yang juga Asda I Kota Cilegon ini.


Sumber: http://www.jpnn.com

HIV/AIDS Di Berbagai Negara

Negara-negara Afrika 
Berhasil Kurangi Penyebaran AIDS 

London - Sebanyak tujuh negara di sub-Sahara Afrika, wilayah yang penduduknya paling banyak terjangkit AIDS, dilaporkan berhasil mengurangi jumlah infeksi virus HIV pada anak sebesar 50 persen sejak 2009.

Program penanggulangan AIDS PBB (UNAIDS) mengatakan bahwa pengurangan drastis tersebut terjadi di Botswana, Ethiopia, Ghana, Malawi, Namibia, Afrika Selatan dan Zambia.

Sementara secara keseluruhan dari 21 negara di Afrika telah berhasil mengurangi jumlah infeksi virus HIV sebanyak 38 persen sejak 2009. Pada tahun 2012, tercatat "hanya" 60.000 kasus HIV baru di Nigeria, jumlah terbanyak dari seluruh negara Afrika. Pengurangan ini diakibatkan oleh perawatan dan obat-obatan kepada ibu hamil. Obat retroviral yang digunakan mampu mencegah virus HIV menular ke anak yang sedang dikandung.

"Kemajuan ini memberikan harapan bahwa dengan usaha yang serius, anak-anak di Afrika bisa terlahir bebas dari HIV," ujar Michel Sidibe, direktur eksekutif UNAIDS.

Namun, akses obat-obatan masih terbatas. Hanya 30 persen anak di Afrika yang bisa mendapatkan perawatan obat-obatan

Sumberhttp://www.beritasatu.com




Tim Peneliti Amerika 

Jajaki Alternatif untuk Vaksin AIDS



Para ilmuwan Amerika sedang menjajaki pendekatan alternatif untuk melawan HIV yang bahkan lebih efektif dibanding vaksin


Dalam lebih dari 200 tahun sejak vaksin-vaksin dikembangkan untuk melindungi orang dari serangan penyakit, pertama dengan vaksin cacar, HIV telah menjadi organisme penyakit yang menjadi tantangan di mana para ilmuwan tidak mampu mengembangkan vaksin yang efektif. Tetapi, beberapa ilmuwan percaya vaksin mungkin bukan jawaban terbaik.
Peneliti Alejandro Balazs yang bekerja pada Institut Tekhnologi California (Cal-Tech) di Pasadena mengupayakan alternatif untuk vaksin AIDS.
Balazs mengatakan bahwa ilmuwan CalTech sedang mengembangkan satu cara membunuh virus yang sangat berbeda dari cara kerja vaksin tradisional.
Vaksin merangsang tubuh agar memproduksi antibodi pelindung, protein anti-infeksi dengan menyuntikkan virus atau bakteri tidak berbahaya, sehingga nantinya, jika muncul tanpa diundang, sistem kekebalan tubuh dengan cepat dapat mengenali dan menyerang pathogen tersebut. Balazs mengatakan strategi ini memberikan kekebalan terhadap berbagai organisme penyakit yang berbahaya.
"Dalam kasus HIV pendekatan tradisional untuk vaksinasi itu sebenarnya tidak berguna, karena tubuh cenderung membuat antibodi yang tidak menetralkan. Jadi, vaksin itu sebenarnya tidak mencegah penularan. Dalam kasus ini kita dapat mengkhususkan antibodi monoklonal yang sudah diketahui ampuh melawan HIV secara langsung. Jadi kita tidak hanya berharap sistem kekebalan tubuh akan menghasilkan antibodi yang dihendaki,” paparnya.
Manurut Balazs, para peneliti CalTech tidak merekayasa antibodi monoklonal yang ditargetkan secara spesifik terhadap HIV itu. Rekayasa itu sudah dilakukan oleh banyak ilmuwan di seluruh dunia.
Tetapi, tim CalTech membuat terobosan baru dengan memasukkan antibodi itu ke dalam virus dingin yang tidak berbahaya, dan kemudian menyuntikkannya ke dalam jaringan otot tikus percobaan.
Tikus-tikus yang dibiakkan untuk mengembangkan sistem kekebalan tubuh mirip manusia itu, kemudian menghasilkan sejumlah besar anti-bodi yang mampu membunuh virus.
Balazs mengatakan teknik, yang disebut Vectored Immuno-Prophylaxi (VIP)) itu mencegah infeksi ketika tikus tertular HIV dalam dosis tinggi.
"Tikus-tikus itu pada dasarnya dilindungi dari penurunan kekebalan tubuh akibat HIV, meniru proses yang terjadi pada manusia. Ketika manusia tertular HIV sistem kekebalan tubuh mereka perlahan-lahan dibunuh oleh virus tersebut. Kami menemukan bahwa profilaksis kami mencegah itu," ujarnya lagi.
Balazs mengatakan para peneliti berharap dapat memulai uji klinis terapi VIP pada manusia dalam dua sampai tiga tahun ke depan.
Penelitian mengenai pengobatan HIV ini dimuat dalam jurnal Nature.

Ilmuwan Brazil 
Ujicoba Vaksin AIDS Pada Monyet

Sao Paulo
 - Para ilmuwan Brazil mengembangkan vaksin untuk virus Human Immunodefifiency Virus (HIV), dan berencana mengujicobanya pada monyet.

Seperti dikutip dari TheNewZealandHerald, vaksin itu akan mulai dites pada monyet pada akhir tahun ini.

"Vaksin yang dikenal dengan nama HIVBr18 tersebut dikembangkan dan dipatenkan oleh tim dari Medicine Faculty of the University of Sao Paulo," ungkap pihak Research Foundation (FAPESP).

Pihak FAPESP mengatakan bahwa vaksin tersebut dalam tingkatan tertentu perkembangan virus, dapat menghalaunya, namun belum bisa memunaskan secara seluruhnya virus tersebut. [ikh]

Sumberhttp://teknologi.inilah.com






Usaha Penanggulangan HIV/AIDS

Penanggulangan HIV/AIDS


Acquired Immune Deficiency Syndrome  (AIDS) merupakan kumpulan gejala penyakit yang disebabkan oleh virus HIV ( Human Immuno Deficiency Virus ) yang akan mudah menular dan mematikan. Virus tersebut merusak sistem kekebalan tubuh manusia, dengan berakibat yang bersangkutan kehilangan daya tahan tubuhnya, sehingga mudah terinfeksi dan meninggal karena berbagai penyakit infeksi kanker dan lain-lain.
Sampai saat ini belum ditemukan vaksin pencegahan atau obat untuk penyembuhannya. Jangka waktu antara terkena infeksi dan munculnya gejala penyakit pada orang dewasa memakan waktu rata-rata 5-7 tahun.
Selama kurun waktu tersebut walaupun masih tampak sehat, secara sadar maupun tidak pengidap HIV dapat menularkan virusnya pada orang lain.
PENULARAN HIV / AIDS
Karena AIDS bukan penyakit, AIDS tidak menular yang menular adalah HIV yaitu virus yang menyebabkan kekebalan tubuh mencapai masa AIDS. Virus ini terdapat dalam larutan darah cairan sperma dan cairan vagina, dan bisa menular pula melaui kontak darah atau cairan tersebut. Pada cairan tubuh lain konsentrasi HIV sangat rendah sehingga tidak bisa menjadi media atau saluran penularan.
Tidak ada gejala khusus jika seseorang sudah terinfeksi HIV, dengan kata lain orang yang mengidap HIV tidak bisa dikenali melalui diagnosis gejala tertentu, disamping itu orang yang terinfeksi HIV bisa saja tidak merasakan sakit. Berbulan-bulan atau tahun seseorang yang sudah terinfeksi dapat bertahan tanpa menunjukkan gejala klinis yang khas tetapi baru tampak pada tahap AIDS.
Ada empat cara penularan HIV. Pertama, melalui hubungan seksual dengan seorang pengidap HIV tanpa perlindungan atau menggunakan kontrasepsi (kondom). Cara kedua, HIV dapat menular melalui transfusi dengan darah yang sudah tercemar HIV. Cara ketiga, seorang ibu yang mengidap HIV bisa pula menularkannya kepada bayi yang dikandung, itu tidak berarti HIV /AIDS merupakan penyakit turunan, karena penyakit turunan berada di gen-gen manusia sedangkan HIV menular saat darah atau cairan vagina ibu membuat kontak dengan cairan atau darah anaknya. Dan cara keempat adalah melalui pemakaian jarum suntik akufuntur, jarum tindik dan peralatan lainnya yang sudah dipakai oleh pengidap HIV.
Kemungkinan penularan HIV melalui empat cara diatas tidak sama, hal tersebut dapat dilihat pada tabel dibawah ini

Penularan melalui

Kemungkinan terinfeksi per kontak (%)
12
3
3.1
3.2
3.3
4
4.1
4.2
4.3
4.4
4.5
4.5.1
4.5.2

Tranfusi darah yang terinfeksi HIV

Dari ibu yang HIV + ke anak yang dikandungnya

Jarum
Jarum suntik
Jarum tusuk
Jarum suntik pada pecandu narkotika
Hubungan seksual
Laki-laki ke laki-laki
Laki-laki ke perempuan
Perempuan ke laki-laki
Anal seks*
Oral seks*
Penis ke mulut*
Mulut ke Vagina*
89,5
15 – 30
0,67
0,29
0,5 – 10
0,06 – 5,10
0,05 – 0,23
0,03 – 5,60
Belum dapat dipastikan
Idem
Idem
Idem
Sumber :  TIME (23/6-1997) dan AIDS and Men : Taking Risk of Taking Responsibility (Panos, London, 1999) serta sumber-sumber lain. Pengolahan data oleh penulis.
Data diatas menunjukkan kemungkinan penularan paling besar bila seseorang mendapat tranfusi dengan darah yang sudah terinfeksi HIV 89,5% akan terinfeksi, antara 15-30% ibu hamil yang positif akan menularkan virus pada anak yang dikandungnya. Kemungkinan penularan ini dapat ditekan sampai 8% dengan penanganan dokter ahli dan pemakaian obat-obat khusus saat hamil (Mutiara, 873,15-21 1997), dan kemungkinan cukup besar tertular sampai 10% perkontak, terdapat pada kalangan pecandu narkotik suntikan.
Ada satu kondisi lagi yang kondusif untuk penularan HIV/AIDS bila seseorang sudah terkena satu penyakit kelamin, penyakit kelamin yang dikenal umum adalah sifilis, gonore / GO, herpes dan chlanydia. Penderita penyakit diatas bisa membuat seorang rentan terhadap penularan HIV karena penyakit yang sudah ada padanya bisa menyebabkan infeksi saluran reproduksi, HIV bisa masuk dengan mudah melalui bagian yang sudah sakit.
TAHAP DAN GEJALA HIV / AIDS
Gejala-gejala AIDS baru bisa dilihat pada seseorang yang tertular HIV sesudah masa inkubasi, yang biasanya berlangsung antara 5-7 tahun setelah terinfeksi. Selama masa inkubasi jumlah HIV dalam darah terus bertambah sedangkan jumlah sel T semakin berkurang, kekebalan tubuhpun semakin rusak jika jumlah sel T makin sedikit.
Masa inkubasi terdiri dari beberapa tahap, tenggang waktu pertama setelah HIV masuk kedalam aliran darah, disebut masa jendela / Window Period. Tenggang waktu berkisar antara 1-6 bulan, pada rentang waktu ini tes HIV akan menunjukkan hasil yang negativ karena tes yang menditeksi anti body HIV belum dapat ditemukan, tetapi walaupn seseorang yang terinfeksi HIV baru pada tahap jendela tetap saja dia dapat menularkan HIV kepada orang lain. Tahap kedua disebut kondisi asimptomatik, yaitu suatu keadaan yang tidak menunjukkan gejala-gejala walaupun dalam tubuh seseorang sudah ada HIV yang dapat dideteksi melalui tes. Kondisi ini bisa berlangsung antara 5-10 tahun, dan tahap inipun seseorang yang positif bisa menularkan HIVnya pada orang lain. Tahap ketiga ditandai dengan pembesaran kelenjar limfe yang menetap dibanyak bagian tubuh. Dan tahap keempat ditandai dengan kondisis seseorang yang sel T– 4 (sel darah putih sebagai pertahanan tubuh saat antigen masuk) pada dirinya sudah berada dibawah 200 / microliter sehingga muncul berbagai macam penyakit, terutama penyakit-penyakit yang disebabkan infeksi oportunistik. Sebenarnya infeksi oportunistik ini juga sudah sering muncul sebelum seseorang mencapai masa AIDS, tetapi dia belum akan dikatakan dalam kondisi AIDS apabila sel T – 4 didalam darahnya masih diatas 200 / microliter.
WHO telah membuat kriteria gejala yang dapat dipakai sebagai pegangan dalam mendiagnosis AIDS, ada yang disebut gejala mayor dan gejala minor. Gejala minor atau ringan antara lain :
batuk kronis lebih dari satu bulan, bercak-bercak merah dan gatal dipermukaan kulit pada beberapa bagian tubuh, Herpes Zorter (infeksi yang disebabkan virus yang menggangu saraf) yang muncul berulang-ulang, infeksi semacam sariawan pada mulut dan tenggorokan yang disebabkan oleh jamur Candida albicans, dan pembengkakan kelenjar getah bening yang menetap di sekujur tubuh. Gejala-gejala mayor antara lain : demam yang berkepanjangan lebih dari tiga bulan, diare kronis lebih dari satu bulan berulang-ulang maupun terus-menerus dan penurunan berat badan lebih 10 persen dalam kurun waktu tiga bulan.
C.    PERKEMBANGAN HIV/AIDS DI DUNIA
Setelah kasus pertama HIV /AIDS ditemukan pada tahun 1981, dewasa ini telah merupakan pandemi, menyerang jutaan penduduk disetiap negara didunia dan menyerang pria, wanita serta anak-anak. WHO memperkirakan bahwa sekitar 10-12 juta orang dewasa dan anak-anak didunia telah terinfeksi dan setiap hari sebanyak 5000 orang tertular virus HIV. Menurut estimasi, pada tahun 2000 sekarang sekitar 10 juta penduduk akan hidup dengan AIDS, 8 juta diantaranya akan mati. Pada saat itu laju infeksi pada wanita akan jauh lebih cepat dari pada pria. Dari seluruh infeksi HIV 90% akan terjadi di negara berkembang terutema di Asia, negara yang paling parah terkena antara lain : Thailand diperkirakan antara 500 ribu dan 800 ribu penduduknya telah terinfeksi, India sudah mencapai rata-rata antara 2-5 juta, di Bombay sudah 50% pekerja seks dan 22,5% perempuan hamil sudah terinfeksi virus HIV. Sementara itu negara-negara maju telah berhasil menekan laju infeksi HIV di negaranya. Untuk lebih jelasnya dapatb dilihat tabel estimasi epidemi HIV / AIDS didunia (juni 1998).

Kawasan

Jumlah

Amerika Utara

Karibia
Amerika Latin
Eropa Barat
Eropa Timur dan Asia Tengah
Afrika Utara dan Timur Tengah
Sahara Afrika
Asia Selatan dan Asia Tenggara
Asia Timur dan Pasifik
Australia dan Selandia Baru
860.000
310.000
1.300.000
480.000
190.000
210.000
21.000.000
5.800.000
420.000
12.000
Total
30.582.000
Sumber :  Report on the Global HIV/AIDS Epidemic, Juni 1998, UNAIDS/WHO.
Tahun 2000 penanganan AIDS diseluruh dunia akan menghabiskan dana 514 milliar dollar AS. Setiap hari 7500 penduduk dunia terinfeksi HIV, lebih dari separo yang terinfekssi rata-rata berusia dibawah 25 tahun.
Melihat kondisi yang sangat memprihatinkan tersebut pemerintah menganggap perlu melakukan satu tindakan pencegahan dan penanggulangan AIDS baik secara nasional ataupun regional dan global dengan berdasarkan kemanusiaan dan keadilan, sehingga akhirnya dibentuk suatu komisi penaggulangan AIDS. Komisi penaggulangan AIDS ini ditetapkan dengan keppres NO. 36 tahun 1994.
D.    SITUASI DAN MASALAH HIV DI INDONESIA
Kasus penularan AIDS pertama di Indonesia pada tahun 1987 kemudian disusul dengan kasus-kasus berikutnya, sehingga pada tanggal 31 januari 1995 tercatat pengidap HIV 211 orang dan 69 penderita AIDS, 44 orang diantaranya meninggal. Data terakhir bulan Juni 1999 tercatat 88 mengidap HIV dan 26 penderita AIDS (sampai dengan 31 Agustus 1999).  Serupa dengan pola penyebaran dinegara lain, di Indonesiapun mulainya diantara orang-orang homo seks, kemudian muncul pada sekelompok kecil orang-orang yang berperilaku resiko tinggi seperti pecandu obat narkotika dan para tuna susila. Sasaran umum pembangunan jangka panjang kedua (PJP-II) sebagaimana dinyatakan dalam GBHN 1993 adalah terciptanya kwalitas manusia dan kwalitas masyarakat Indonesia yang maju dan mandiri. Penyebaran HIV / AIDS dalam masyarakat bukan semata-mata hanya masalah kesehatan saja, tetapi mempunyai implikasi politik, ekonomi, sosial, etis, agama dan hukum, bahkan dampaknya secara nyata cepat atau lambat menyentuh semua aspek kehidupan bangsa dan negara. Hal ini mengancam upaya bangsa untuk meningkatkan kwalitas sumber daya manusia.
Dalam rangka mengamankan jalannya pembangunan nasional, demi terciptanya kwalitas manusia yang diharapkan, perlu peningkatan upaya penaggulangan HIV / AIDS, yang melibatkan semua sektor pembangunan nasional melalui program yang terarah, terpadu dan menyeluruh.
Untuk itu disusunlah strstegi nasional penanggulangan HIV / AIDS yang komprehensif, menyeluruh dan multi sektorel, guna mewujudkan satu gerak langkah dalam penaggulangan AIDS tersebut dan yang berdasarkan Keputusan Presiden NO. 36 tahun 1994 tentang komisi penanggulangan AIDS.
Tujuan Penanggulangan HIV/AIDS adalah untuk :
  1. Mencegah penularan virus HIV.
  2. Mengurangi sebanyak mungkin penderitaan perorangan, serta dampak sosial dan ekonomis dari HIV/AIDS di seluruh Indonesia.
  3. Menghimpun dan menyatukan upaya-upaya nasional untuk penanggulangan HIV/AIDS.
E.     STRATEGI NASIONAL PENANGGULANGAN HIV/AIDS
Strategi Nasional ini merupakan kerangka acuan dan panduan untuk setiap upaya penanggulangan HIV/AIDS di Indonesia, baik oleh pemerintah, masyarakat LSM, keluarga, perorangan, universitas dan lembaga-lembaga penelitian, donor dan badan-badan internasional agar dapat bekerja sama dalam kemitraan yang efektif dan saling melengkapi dalam lingkup keahlian dan kepedulian masing-masing berdasarkan Pasal 5 Keputusan Presiden nomor 36 Tahun 1994.
Strategi Nasional ini disusun dengan sistematika, Prinsip-prinsip dasar penanggulangan HIV/AIDS, Lingkup program, peran dan tanggung jawab, kerjasama internasional dan pendanaan. Kegiatan penanggulangan AIDS dikomandoi oleh Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) yang diketuai oleh Menko Kesra dan di daerah oleh KPAD. Kegiatannya meliputi pencegahan, pelayanan, pemantauan, pengedalian dan penyuluhan.
Prinsip-prinsip dasar penanggulangan HIV/AIDS.
  1. Upaya penanggulangan HIV/AIDS dilaksanakan bersama oleh masyarakat dan pemerintah.
  2. Setiap upaya penanggulangan harus mencerminkan nilai-nilai agama dan budaya yang ada di Indonesia.
  3. Setiap kegiatan diarahkan untuk mempertahankan dan memperkukuh ketahanan dan kesejahteraan keluarga, serta sistem dukungan sosial yang mengakar dalam masyarakat.
  4. Pencegahan HIV/AIDS diarahkan pada upaya pendidikan dan penyuluhan untuk memantapkan perilaku yang baik dan mengubah perilaku yang berisiko tinggi.
  5. Setiap orang berhak untuk mendapat informasi yang benar untuk melindungi diri dan orang lain terhadap infeksi HIV.
  6. Setiap kebijakan, program, pelayanan dan kegiatan harus tetap menghormati harkat dan martabat dari para pengidap HIV/penderita AIDS dan keluarganya.
  7. Setiap pemeriksaan untuk mendiagnosa HIV/AIDS harus didahului dengan penjelasan yang benar dan mendapat persetujuan yang bersangkutan (informed consent), sebelum dan sesudahnya harus diberikan konseling yang memadai dan hasil pemeriksaan wajib dirahasiakan.
  8. Diusahakan agar peraturan perundang-undangan mendukung dan selaras dengan Strategi Nasional Penanggulangan HIV/AIDS di semua tingkat.
  9. Setiap pemberi pelayanan kepada pengidap HIV/penderita AIDS berkewajiban memberikan pelayanan tanpa diskriminasi.
  10. 3 Aspek Kepedulian :
  11. Lingkup Program Utama :

Program

  1. Pengamanan sumberdaya manusia.
  2. Penggerakan, perorangan, keluarga, masyarakat untuk pencegahan, penyebaran dan penanggulangan HIV/AIDS.
  3. Pelayanan, perawatan, pengobatan.
  1. Komunikasi, Informasi, Edukasi (KIE).
  2. Pencegahan.
  3. Penelitian dan Kajian.
  4. Monitoring dan Evaluasi.
Sasaran Masyarakat Terkena Infeksi HIV/AIDS, terutama :
  1. Kelompok resiko tinggi :
  2. Kelompok resiko rendah :
  1. Wanita Tuna Susila (WTS).
  2. Karyawati panti pijat, night club, bar dan diskotik.
  3. Waria.
  4. Narapidana.
  5. Kelompok gay.
  6. Penderita penyakit menular seksual.
  1. Donor darah.
  2. Ibu hamil.
  3. Calon Tenaga Kerja Indonesia (TKI).
  4. Pelajar/mahasiswa.
  5. Karyawan.
Upaya Kebijakan Untuk Mencegah Penyebaran HIV :
-          Agama sebagai benteng.
-          Kartu bebas AIDS.
STRATEGI YANG DAPAT DILAKUKAN UNTUK MENANGGULANGI PENYEBARAN PENYAKIT HIV/AIDS ANTARA LAIN :
  1. melakukan promosi kondom bagi WTS atau pekerja sex lainnya dengan cara memberikan penjelasan tentang fungsi dan cara pemakaiannya.
  2. Membangun tempat-tempat rehabilitasi khusus untuk orang-orang yang menderita penyakit AIDS.
  3. Gencar melakukan pentuluhan di berbagai tempat yang ditujukan kepada masyarakat umum tentang bahaya HIV/AIDS baik itu di sekolah-sekolah (SMU), Perguruan Tinggi jika perlu sampai ke Pondok Pesantren, kerja sama dinas kesehatan dengan para pembimbing sekolah.
  4. Pemerintah dan LSM yang ada banyak melakukan penyuluhan ketahanan keluarga karena dengan ketahanan keluarga diharapkan Ayah, Ibu dan anak memahami bahaya dari penularan HIV/AIDS.
  5. Merubah sikap dan perilaku masyarakat kearah positif dalam rangka pencegahan dan penyebarluasan AIDS.
  6. Meningkatkan pengetahuan petugas dalam rangka peningkatan kualitas pelayanan.
  7. Berusaha agar pengidap HIV dan golongan resiko tinggi (WTS) dibekali keterampilan tertentu agar mampu bekerja di bidang lain dalam kehidupnnya.
  8. Membentuk kelompok kerja teknis komunikasi, informasi, dan idukasi khusus untuk menagani HIV/AIDS.
Sebab-sebab tertular atau terkena HIV/AIDS antara lain :
  1. banyak persepsi yang keliru tentang pemahaman penyakit HIV/AIDS dikalangan masyarakat.
  2. Kurang adanya pendekatan orang tua terhadap anak-anaknya yang menginjak remaja sehingga mereka terjerumus pada pergaulan bebas.
  3. Kurangnya pengetahuan sex dan seringnya berganti-ganti pasangan dengan orang yang sudah terinfeksi HIV.
  4. Banyaknya tempat-tempat rawan yang dapat menimbulkan penularan HIV diantaranya panti pijat, diskotik, tempat lokalisasi dan lain-lain.
  5. Maraknya bisnis esek-esek  dikalangan masyarakat tanpa perasaan malu melakukan hal tersebut.
-     Skrining darah.
-          Menutup tempat pelacuran.
F.     KESIMPULAN
Dengan melihat data maupun keterangan yang telah dijabarkan diatas, jelaslah bahwa penyakit/virus HIV sangat membahayakan bahkan lambat laun bisa mematikan. Untuk itu kita semua harus selalu waspada dengan cara menjauhkan diri dari segala perbuatan yang dapat menyebabkan penularan HIV/AIDS, terutama sex bebas dalam arti tanpa menggunakan alat kontrasepsi.

Strategi Efektif Atasi AIDS

Mencegah Penularan, Strategi Efektif Atasi AIDS



Dr Andi Utama, Peneliti Puslit Bioteknologi LIPI; Postdoctoral Fellow of Japan Society for Promotion of Science, National Institute of Infectious Diseases, Jepang.

AIDS (acquired immunodeficiency syndrome) adalah penyakit global yang menjadi masalah di seluruh dunia. Dalam rangka memperingati Hari AIDS Sedunia yang jatuh pada 1 Desember, WHO melancarkan program The 3 by 5 Initiative dengan tujuan untuk menyuplai obat antiretroviral (ARV) kepada tiga juta pasien AIDS di negara berkembang menjelang tahun 2005.

Program ini dilakukan untuk memberantas penyakit AIDS yang disebabkan oleh infeksi virus HIV (human immunodeficiency virus), yang jumlahnya kian hari terus bertambah. Menurut laporan WHO pada Desember 2002, lebih dari 20 juta jiwa telah meninggal karena AIDS. Dan sekarang diperkirakan penderita AIDS berjumlah lebih dari 42 juta. Jumlah ini terus bertambah dengan kecepatan 15.000 pasien per hari. Jumlah pasien di kawasan Asia Selatan dan Asia Tenggara diperkirakan sekitar 5,6 juta.

Di Indonesia sendiri, berdasarkan data Ditjen PPM & PLP Depkes, sampai dengan November 2003 dilaporkan bahwa jumlah pasien AIDS dan pengidap HIV adalah 3.924 orang. Dalam jangka tiga bulan terakhir (Juli-September 2003) telah dilaporkan tambahan 151 kasus AIDS dan 126 pengidap infeksi HIV. Ini membuktikan bahwa kalau tidak dilakukan tindakan pencegahan dari dini, kasus AIDS/HIV akan menjadi masalah besar di Indonesia pada masa yang akan datang.

Terapi AIDS/HIV

Terapi AIDS/HIV saat ini adalah terapi kimia (chemotherapy) yang menggunakan obat ARV yang berfungsi menekan perkembangbiakan virus HIV. Obat ini adalah inhibitor dari enzim yang diperlukan untuk replikasi virus seperti reverse transcriptase (RT) dan protease. Inhibitor RT ini terdiri dari inhibitor dengan senyawa dasar nukleosid (nucleoside-based inhibitor) dan nonnukleosid (nonnucleoside-based inhibitor).

Di antara nucleoside-based inhibitor RT adalah AZT (zidovudine), ddI (didanosine), ddC (zalcitabine), 3TC (lamivudine), d4T (stavudine
), dan lain-lain. Nevirapine dan efavirenz adalah nama obat ARV berupa inhibitor protease.
Sementara itu, inhibitor protease yang sampai saat ini terdaftar resmi di USA Food and Drug Administration (FDA) adalah amprenavir (Agenerase), indinavir (Crixivan), lopinavir/ritonavir (Kaletra), ritonavir (Norvir), saquinavir (Fortovase), and nelfinavir (Viracept).

Terapi menggunakan obat AZV ini umumnya tidak dilakukan dengan satu jenis obat saja, tapi dengan kombinasi berbagai macam obat. Hal ini disebabkan karena pemakaian obat tunggal tidak menyembuhkan dan bisa memicu munculnya virus yang resisten terhadap obat tersebut.
Pemakaian obat kombinasi menjadi standar pengobatan AIDS saat ini. Strategi ini disebut highly active antiretroviral threrapy (HAART). Dengan HAART ini, biasanya direkomendasikan untuk menggunakan protease inhibitor dengan minimal dua jenis obat lainnya. Walaupun demikian, cara ini juga masih belum efektif dan masih mengakibatkan munculnya virus yang resisten.

Walaupun demikian, upaya penemuan obat baru tetap dilakukan. Seiring dengan itu, juga dilakukan usaha untuk pengembangan vaksin terhadap virus HIV. Di antaranya yang cukup memberi harapan adalah kandidat vaksin dari rekombinant protein gp120 (protein selaput envelope protein virus HIV). Kandidat vaksin ini dikembangkan oleh VaxGen Inc, perusahaan yang bergerak di bidang produk biologi untuk penyakit menular yang berpusat di Australia.
Namun sayang sekali, kandidat vaksin yang bernama AIDSVAX ini tidak terbukti efektif pada pengujian klinis fase-3, yaitu fase pengujian skala besar terhadap ketahanan manusia terhadap serangan virus HIV.

Kendala pengobatan AIDS/HIV

Sulitnya penemuan obat atau vaksin virus HIV ini disebabkan oleh beberapa hal, antara lain tingginya tingkat mutasi virus ini. Terjadinya mutasi ini menyebabkan virus mudah berubah bentuk dan sifat sehingga resisten terhadap obat. Jika obat yang dipakai adalah inhibitor terhadap enzim transcriptase seperti AZT (zinovudine, misalnya), terjadinya mutasi yang signifikan pada gen transcriptase akan membuat AZT tidak akan berfungsi lagi.
Biasanya hal ini bisa diatasi dengan menggunakan obat kombinasi. Tapi tindakan ini tidak mempan terhadap virus HIV disebabkan tingkat mutasinya yang tinggi. Baru-baru ini, salah satu studi terhadap 80 orang pasien yang diberi obat tripel zidovudine, lamivudine, dan nevirapine memperlihatkan bahwa 61% di antaranya ditemukan mutasi yang membuat virus resisten terhadap obat ini (Re et al, 2003).

Selain itu, virus HIV juga melakukan proses rekombinasi (penyilangan gen) dengan virus HIV yang berbeda tipe. Ini lebih menyebabkan lagi virus HIV bisa berubah menjadi bermacam-macam bentuk dan sifat. Karena biasanya obat yang dirancang hanya ditargetkan untuk virus tertentu, maka berubahnya virus akan menyebabkan obat yang dirancang tidak berfungsi lagi. Analisis virus HIV yang diisolasi dari pasien yang diberi obat inhibitor protease membuktikan bahwa rekombinasi virus menyebabkan resistennya virus terhadap protease inhibitor (Penn et al, 2001). Liciknya, virus ini hanya mengubah diri untuk menjadi resisten terhadap obat, tanpa mengurangi sifat patogennya.

Penularan AIDS dan gaya hidup

Virus HIV biasanya hidup dan berkembang biak pada sel darah putih manusia, yang erat hubungannya dengan sistem daya tahan tubuh manusia karena merupakan sumber antibodi. Jadi, HIV akan berada pada cairan tubuh yang mengandung sel darah putih, seperti darah, cairan plasenta, cairan sperma, cairan vagina, cairan sumsum tulang, air susu ibu, dan cairan otak.

Karena itu, maka penularan HIV akan berlangsung pada saat terjadi pencampuran cairan tubuh yang mengandung virus HIV. Pencampuran tersebut bisa terjadi melalui berbagai perilaku. Di antaranya adalah hubungan seks dengan pasangan pengidap HIV, suntikan jarum yang tercemar virus HIV, transfusi darah yang mengandung HIV, dan kelahiran dari ibu yang mengidap HIV.

Dari sini jelas bahwa hubungan seks merupakan faktor utama penyebab penyebaran AIDS. Artinya, penyebaran AIDS sangat dipengaruhi oleh gaya hidup suatu masyarakat, seperti pergaulan pria dan wanita yang bebas, kenakalan remaja yang cenderung menggunakan NAPZA, atau perilaku homoseksual. Dengan kata lain, semakin banyak hal-hal di atas ditemukan dalam masyarakat, kecepatan penyebaran virus HIV akan semakin tinggi.
Pencegahan penularan menjadi kunci

Karena kita tahu bahwa sampai saat ini tidak ada obat yang efektif untuk penyakit AIDS/HIV ini, seharusnyalah kita sadar bahwa upaya efektif yang bisa kita lakukan untuk mengantisipasi masalah ini adalah pencegahan. Dengan menghindari penyebaran virus HIV, dengan cara menjauhi gaya hidup yang menyebabkan penyebaran HIV, masalah ini akan bisa diatasi. Sebaliknya jika kita lalai dan tidak acuh terhadap perilaku yang menularkan virus HIV, masalah ini tidak akan bisa diatasi.

Dalam rangka memberantas AIDS/HIV di Indonesia, pada Maret 2003, Depkes telah mengeluarkan buku Strategi Nasional Penanggulangan HIV/AIDS Tahun 2003-2007. Di dalam buku tersebut ditetapkan untuk mencapai target di atas ada enam area yang diprioritaskan, yaitu pencegahan HIV/AIDS, perawatan, pengobatan dan dukungan terhadap orang HIV/AIDS, surveilans HIV/AIDS dan infeksi menular seksual, kegiatan penelitian, lingkungan yang kondusif, koordinasi multipihak, serta penanggulangan berkesinambungan.
Dari sini jelas sekali bahwa pencegahan merupakan hal yang utama. Tentu saja hal ini tidak mudah dilaksanakan karena kurangnya pengetahuan masyarakat tentang AIDS/HIV itu sendiri. Pengetahuan tersebut meliputi bahaya AIDS, bagaimana penularannya, serta bagaimana pecegahannya. Begitu juga kesadaran yang masih kurang. Karena itu, untuk melaksanakan pencegahan ini pun memerlukan kerja sama berbagai pihak, mulai dari tingkat individu sampai pada tingkat pemerintahan.

Apa yang direncanakan oleh Forum Parlemen Indonesia untuk Kependudukan dan Pembangunan, untuk menggalang komitmen politik dari anggotanya di pusat maupun daerah guna mencegah meluasnya HIV/AIDS melalui kebijakan serta peraturan yang terpadu, merupakan salah satu usaha yang efektif (Media Indonesia, 1/12/2003). Dengan memperingati Hari AIDS Sedunia ini, marilah kita sama-sama berusaha agar penyakit AIDS/HIV ini tidak semakin menyebar di negara kita.***