Kamis, 24 April 2014

HIV/AIDS Pada PSK

Pekerja Seks Berperan Besar 
Dalam Penyebaran HIV/AIDS

DENPASAR - Pemerintah Provinsi Bali diminta untuk melibatkan para pekerja seks untuk lebih optimal dalam menanggulangi penyakit HIV/AIDS. Desakan itu disampaikan aktivis HIV/AIDS di Bali yang melihat sebagian besar penyebaran HIV berawal dari hubungan dengan pekerja seks.

Koordinator lapangan Yayasan Kerti Praja, Dewa Nyoman Suyetna dalam keterangannya di Denpasar mengatakan, saat ini di Bali terdapat sekitar 3.000 pekerja seks dan 20 persen di antaranya adalah positif HIV. Dalam satu tahun, jumlah pelanggan pekerja seks di Bali mencapai sekitar 80.000 orang. Sehingga pelibatan pekerja seks diharapkan dalam mengurangi penyebaran HIV melalui penggunaan kondom.

Menurut Suyetna, langkah lainnya yang juga dapat dilakukan adalah melalui pembentukan kelompok kerja (pokja) di lokasi-lokasi tempat pekerja seks tinggal. Pembentukan pokja yang melibatkan pekerja seks, mucikari dan aparat desa bertujuan untuk mempermudah melakukan penyuluhan dan pengecekan kesehatan secara rutin, ujarnya.

“Kita yang memberikan penyuluhan atau germonya yang memberikan penyuluhan. Kedua, mereka harus menyiapkan anak buahnya kalau ada penyuluhan. Ketiga, mereka harus menganjurkan anak buahnya untuk periksa IMS (infeksi menular seksual). Keempat, mereka harus menyediakan kondom dan menganjurkan pemakaiannya,” ujar Suyetna.

Berdasarkan data Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Bali jumlah kasus HIV/AIDS di Bali hingga Maret 2013 mencapai 7.551. Dari jumlah tersebut tercatat 76,9 persen penularannya melalui hubungan heteroseksual.

Sementara itu, hasil survei terhadap perilaku gay dan waria di Bali, yang dilakukan Yayasan Gaya Dewata selama Mei 2013 hingga Juni 2013 terhadap 400 gay dan waria di Bali, menunjukkan 85 persen gay dan waria di provinsi itu memiliki kesadaran untuk melakukan tes HIV/AIDS secara sukarela.

Direktur Yayasan Gaya Dewata Christian Supriyadinata mengatakan, meningkatnya kesadaran gay dan waria melakukan tes HIV di klinik Voluntary Counselling and Testing (VCT) atau klinik konseling dan tes sukarela karena tersediannya klinik VCT di seluruh rumah sakit dan beberapa puskesmas di Bali.

“Sekarang ini layanan di Bali sudah lumayan banyak, khususnya di Denpasar sudah banyak sekali ada layanan, tiap kecamatan ada termasuk puskesmas, terus rumah sakit semua ada layanan VCT, artinya mereka sudah tahu sudah sadar akhirnya memeriksakan diri,” ujarnya.

Kepala Dinas Kesehatan Bali dr Ketut Suarjaya mengakui sedang berusaha memperluas layanan kesehatan bagi orang dengan HIV/AIDS (ODHA), termasuk merancang program pendidikan mengenai HIV/AIDS bagi pelajar di Bali.

“Tambahan pengetahuan tentang HIV sudah harus dimulai dari tingkat anak sekolah, itu pemahamannya harus mulai dari sana, sehingga ada suatu kurikulum khusus tentang HIV pada murid,” ujarnya. (voa/A-147)***

Sumberhttp://www.pikiran-rakyat.com




PSK Bali Sadar HIV/AIDS

DENPASAR -- Kesadaran akan penanggulangan HIV/AIDS di kalangan pekerja seks komersil (PSK) di Kota Denpasar dan Kabupaten Badung, Bali, meningkat.

"Dulu kesadaran untuk memeriksakan diri HIV/AIDS sangat rendah, namun sekarang lebih mudah. Apalagi setelah KPA (Komisi Penanggulangan HIV/AIDS) memfasilitasi dan membentuk pokja," kata Pengelola Program Yayasan Kerti Praja Dewa Nyoman Suyetna di Denpasar, Senin (17/6).

Kelompok kerja itu dibentuk di tempat beroperasinya PSK dilengkapi dengan susunan pengurusnya yang biasanya di bawah koordinasi masing-masing mucikari. "Di Denpasar dan Kabupaten Badung setidaknya ada 11 pokja sejak terbentuk pertama kali pada 2009. Bos mucikari sekarang sangat kooperatif membantu penanggulangan HIV/AIDS. Kalau dulu, jangankan membagikan kondom, menyosialisasikan saja sulit," katanya.

Keberhasilan kerja sama KPA, Yayasan Kerti Praja, dan pokja dalam penanggulangan HIV/AIDS, lanjut Suyetna, dapat dilihat dari perilaku pekerja seks yang sejak pagi sudah mengantre untuk memeriksakan diri ke pusat layanan kesehatan.

"Dulu untuk pemeriksaan harus kami jemput, kami sediakan taksi, dan bahkan dari baru bangun kami gedor untuk periksa. Tak jarang sampai mandi kami tungguin dan biaya taksi yang dikeluarkan untuk penjemputan sampai Rp5 juta per bulan, sekarang kesadarannya luar biasa," tuturnya.

Dulu PSK tidak mau menerima pemberian kondom dari KPA. Namun sekarang para mucikari sampai menghubungi YKP untuk meminta kondom. "Para pekerja seks yang sudah positif terkena AIDS harus didampingi dengan ketat untuk minum ARV-nya. Jika tidak minum, maka virusnya akan naik menularkan jauh lebih mudah. Sedangkan kalau virusnya sudah ditekan dengan minum ARV, kekebalan tubuh penderita akan naik dan kemungkinan untuk menularkan jauh lebih kecil," katanya.

Dengan adanya pokja, kata Suyetna, mucikari harus melaporkan jika ada anak buahnya yang baru dan harus menghubungi puskesmas atau LSM yang menangani AIDS. Jumlah pekerja seks di Denpasar diperkirakan mencapai seribu orang.

"Nanti kami yang memberikan penyuluhan. Demikian juga mereka harus menyiapkan anak buahnya ketika ada penyuluhan, menganjurkan anak buahnya memeriksakan infeksi menular seksual (IMS), harus menyediakan kondom dan menganjurkan pemakaiannya dan sebagainya yang menjadi kesepakatan dan ada sanksi," ujarnya.

Sementara itu berdasarkan data KPA Bali, jumlah penderita HIV/AIDS di Bali secara kumulatif dari 1987 hingga Maret 2013 mencapai 7.551 orang dengan perincian, kelompok berisiko biseksual (24), heteroksual (5.807), homoseksual (322), IDU (810), perinatal (226), tato (2), dan tidak diketahui (360).

Sumberhttp://www.republika.co.id










HIV/AIDS Pada Ibu Rumah Tangga


Waspada Perempuan 
Lebih Berpotensi Terkena HIV/AIDS


PAREPARE
 - Perempuan dinilai paling berpotensi terserang HIV/AIDS ketimbang pria. HIV/AIDS cenderung menyerang melalui tiga media, yakni darah, cairan sperma, serta cairan vagina.
 
“Mengingat perempuan paling rentan terhadap serangan HIV/AIDS, tentu kaum perempuan harus lebih safety. Karena HIV/AIDS bisa saja dibawa dari pasangan dan tentu dapat pula menular pada bayi dalam kandungan,” jelas anggota Komisi Pemberdayaan AIDS (KPA) Kota Parepare, Sulawesi Selatan, Andi Nila Ridha.

HIV/AIDS lanjut dia, kali pertama ditemukan pada 1981 di Amerika. Di Indonsia saja, virus yang menyerang kekebalan tubuh itu muncul di Bali pada 1987.

“Bali sendiri merupakan benang merah yang bukan lagi bersifat endemik atau hanya menyerang sekelompok orang saja,” sambung Nila.

Nila mengimbau kepada masyarakat untuk berperan serta menanggulangi penyebaran HIV/AIDS. Dengan peran serta masyarakat, pertumbuhan HIV/AIDS bisa diminimalisasi.

Selain itu, sosialisasi juga gencar dilakukan KPA untuk memberikan pemahaman terhadap pelajar dan mahasiswa tentang bahayanya penularan HIV/AIDS, terutama melalui seks bebas.

“Melalui sosialisasi yang gencar, kami berharap masyarakat lebih yakin dalam memerangi HIV/AIDS serta pencegahannya,” tandasnya.



Kasus HIV & AIDS 
Ibu Rumah Tangga di DIY Terbanyak Kedua


YOGYAKARTA -- Data dari Dinas Kesehatan DIY menunjukkan kasus HIV&AIDS pada ibu rumah tangga di DIY terbanyak kedua setelah wiraswasta. Dari laporan data sampai dengan Maret 2013 kasus HIV & AIDS berjumlah 2066 kasus.

Apabila dilihat dari pekerjaannya terbanyak pada wiraswasta yakni 277 kasus, kemudian ibu rumah tangga sebanyak 232 kasus, profesional non medis sebanyak 157 kasus, lain-lain sebanyak 150 kasus, buruh kasar 136 kasus, dan penjaja seks 126 kasus.

Menurut Pengelola Program Komisi Penanggulangan AIDS DIY Ana Yuliastanti, kasus HIV&AIDS sampai Maret 2012 sebanyak 1686 kasus. Kasus terbanyak pada profesional non medis sebanyak 199 kasus.

Selanjutnya pada wiraswasta sebanyak 188 kasus, ibu rumah tangga sebanyak 175 kasus, narapidana sebanyak 122 kasus, penjaja seks sebanyak 116 kasus, dan seterusnya.

Dia mengatakan kasus HIV&AIDS di Indonesia pertama kali tahun 1987-an dan penyebarannya melalui homoseksual, selanjutnya periode 1997-1998 kasus HIV&AIDS banyak terjadi karena penularan lewat jarum suntik (penasun) narkoba. Kemudian ada program harm reduction hingga tahun 2007 Dengan adanya harm reduction persoalan HIV & AIDS karena penasun bisa ditekan.

Setelah itu penyebaran HIV & AIDS melalui transmisi seksual mulai meningkat lagi dan sejak tahun 2007 yang terkena dampaknya ibu rumah tangga.

"Pencegahan penyebaran HIV & AIDS melalui transmisi seksual selama ini intervensinya hanya pada pengguna seks dengan sasaran pekerja seks. Sedangkaan 'pembeli' seks belum pernah disasar. Padahal para pekerja seks posisi tawarnya masih rendah. Harusnya intervensi program kepada laki-laki baik masyarakat secara umum maupun 'pembeli' seks," kata dia.

Karena tidak ada kelompok 'pembeli' seks, masih kata Ana, sulit untuk menyasar mereka. Seharusnya strateginya diubah yakni pemberdayaan perempuan dengan melakukan sosialisasi ke PKK, kelompok dasa wisma tentang bagaimana dampak penularan HIV&AIDS pada ibu rumah tangga.

Di samping itu juga perlu sosialisasi kepada laki-laki yang melakukan hubungan seks tidak hanya dengan isterinya saja, supaya dia tidak menularkan HIV & AIDS ke orang lain atau isterinya sendiri. Sebab, hal ini persoalan besar yang menyangkut masa depan generasi bangsa.

Sebetulnya pemuka agama sudah dilibatkan terutama dari NU (Nahdatul Ulama) agar mulai intervensi untuk pencegahan HIV & AIDS dengan menyasar kelompok populasi laki-laki.

Di DIY juga sudah ada Perda HIV&AIDS dan Peraturan Gubernur tentang Penanggulangan HIV & AIDS dan sudah ada rencana aksi untuk pencegahan transmisi seksual. Tinggal pelaksanaannya yang perlu melibatkan semua elemen masyarakat, baik perempuan maupun laki-laki.

Sumberhttp://www.republika.co.id





HIV/AIDS Pada Remaja-Pemuda

33 Remaja Usia 15-19 tahun 
di Sulut Idap HIV/AIDS


Sebanyak 33 remaja di Sulawesi Utara mengidap HIV/AIDS pada Maret 2013, sehingga instansi terkait perlu mewaspadai penyebaran penyakit itu.

"Kelompok remaja ini berada pada rentang usia 15 sampai 19 tahun," kata Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Provinsi, dr Tangel-Kairupan di Manado, seperti dikutip dari Antara, Sabtu (13/7/2013).

Dia mengatakan, KPA masih akan menelusuri latar belakang profesi remaja yang terkena HIV karena belum bisa dipastikan apakah berprofesi sebagai pekerja seks komersial atau pelanggan yang masih duduk di bangku pendidikan.

"Kalau remaja yang terinfeksi HIV ini adalah mereka yang berprofesi sebagai pekerja seks itu memang berisiko. Namun kalau yang masih berstatus pelajar akan ditelusuri lebih lanjut," katanya.

Sebagaimana data Dinas Kesehatan Provinsi yang dipublikasi KPA, pengidap HIV/AIDS pada rentang usia kurang dari satu tahun sebanyak 23 orang, satu sampai empat tahun sebanyak 37 orang, sehingga bila ditotalkan untuk balita sebanyak 60 orang penderita HIV/AIDS.

Sementara di rentang usia 5-14 tahun, sebanyak 15 orang telah terinfeksi.

Rentang usia dengan jumlah penderita terbanyak adalah 20 tahun-29 tahun dengan 543 orang, usia 30 tahun-39 tahun sebanyak 381 orang, 40 tahun-49 tahun sebanyak 165 orang, usia 50 tahun-59 orang sebanyak 49 orang, dan di atas 60 tahun sebanyak enam orang yang telah terinfeksi HIV/AIDS.

Angka pengidap "human immunodeficiency virus/acquired immunodeficiency syndrome" (HIV/AIDS) di Sulawesi Utara bertambah 23 kasus menjadi 1.265 orang pada Maret 2013.

Pada bulan sebelumnya jumlah penderita HIV dan AIDS sebanyak 1.239 orang.

Sumberhttp://health.liputan6.com




33 ABG di Sulut 
terjangkit virus HIV/AIDS

Komisi Penanggulangan AIDS (KPI) Provinsi Sulawesi Utara menemukan sebanyak 33 remaja di wilayah itu terjangkit virus HIV/AIDS. Temuan itu ditemukan dari hasil penelitian yang dilakukan lembaga tersebut pada Maret 2013 lalu.

"Kelompok remaja ini berada pada rentang usia 15 sampai 19 tahun," kata Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Provinsi Sulut, dr Tangel-Kairupan di Manado, Selasa (9/7), seperti dilansir dari Antara.

Untuk memastikan asal virus tersebut, KPA masih menelusuri latar belakang dan pekerjaan yang dijalani mereka. Sejauh ini, Tangel mengaku belum memastikan para remaja itu merupakan pekerja seks komersial (PSK) atau pelanggan yang masih duduk bersekolah.

"Kalau remaja yang terinfeksi HIV ini adalah mereka yang berprofesi sebagai pekerja seks itu memang berisiko. Namun kalau yang masih berstatus pelajar akan ditelusuri lebih lanjut," katanya.

Sebagaimana data yang dirilis Dinas Kesehatan Provinsi Sulut yang dipublikasi KPA, pengidap HIV/AIDS pada rentang usia kurang dari satu tahun sebanyak 23 orang, satu sampai empat tahun sebanyak 37 orang, bila ditotalkan untuk balita sebanyak 60 orang penderita HIV/AIDS.

Sementara di rentang usia 5-14 tahun, sebanyak 15 orang telah terinfeksi.

Rentang usia dengan jumlah penderita terbanyak adalah 20 tahun-29 tahun dengan 543 orang, usia 30 tahun-39 tahun sebanyak 381 orang, 40 tahun-49 tahun sebanyak 165 orang, usia 50 tahun-59 orang sebanyak 49 orang, dan di atas 60 tahun sebanyak enam orang yang telah terinfeksi HIV/AIDS.

Angka pengidap "human immunodeficiency virus/acquired immunodeficiency syndrome" (HIV/AIDS) di Sulawesi Utara bertambah 23 kasus menjadi 1.265 orang pada Maret 2013. Pada bulan sebelumnya jumlah penderita HIV dan AIDS sebanyak 1.239 orang.

Sumber
http://www.merdeka.com









HIV/AIDS Pada Anak-Anak

14 Anak Positif HIV/AIDS

Singaraja - Sebanyak 14 anak di Kabupaten Buleleng diketahui positif mengidap HIV/AIDS. Anak-anak itu merupakan korban dari perilaku orangtuanya sendiri yang sebelumnya memang mengidap virus tersebut. Koordinator Yayasan Citra Usadha Indonesia (YCUI) Buleleng, Made Ricko Wibawa, mengatakan hingga akhir Mei lalu di Buleleng tercatat 1.712 warga terkena HIV/AIDS.

Dari jumlah itu terdapat 14 anak-anak. Menurutnya, kondisi seperti itu sangat memprihatinkan. Karena anak-anak itu tertular dari orangtuanya sendiri. "14 anak-anak dengan HIV/AIDS itu hidup tanpa kedua orangtua yang sudah lebih dulu meninggal. Sehingga anak-anak itu mendapat pendampingan dari YCUI Buleleng," katanya.

Ricko Wibawa mengatakan, sejauh ini, pihaknya masih memerlukan partisipasi dukungan secara lembaga atau perorangan dalam upaya aksi pencegahan dan pendampingan terhadap korban HIV/AIDS di Buleleng. "Kami masih perlu dukungan dari warga lain agar HIV/AIDS benar-benar habis di Buleleng," katanya. (kmb15)

Sumber: http://www.balipost.co.id





Bocah Pengidap AIDS 
Alami Kekerasan Fisik

Blitar - Meila (bukan nama sebenarnya), bocah pengidap HIV/AIDS yang dirawat di Rumah Sakit Umum Mardi Waluyo Kota Blitar, Jawa Timur, diduga pernah mengalami kekerasan fisik. Dia juga sempat diincar panti asuhan yang diduga jaringan pengemis yang hendak mengambil-alih perawatan Meila.

Muhammad Agung, relawan HIV/AIDS yang merawat Meila di Ruang Isolasi Rumah Sakit Mardi Waluyo, mengatakan sejak ditemukan akhir Mei lalu hingga sekarang, bocah tersebut tak berani berbicara panjang. Dia hanya mengangguk dan menggeleng saat ditanya petugas medis yang merawatnya. "Ada trauma luar biasa yang ia alami," kata Agung kepada Tempo, Jumat, 28 Juni 2013.

Meski belum bisa mengorek keterangan dari Meila, Agung dan seorang psikolog rumah sakit yang merawat memastikan Meila mengalami kekerasan fisik dan psikis. Dia diduga tertular HIV dari orang tuanya yang kemudian meninggal dunia. Selanjutnya Meila dirawat oleh orang dekat keluarganya dan mengalami kekerasan sebelum akhirnya dibuang di pasar dan diselamatkan petugas Dinas Sosial.

Saat ini Agung dan relawan lainnya berusaha menyembuhkan luka traumatik yang dialami Meila. Ditemani seorang psikolog, bocah berusia lima tahun ini menghabiskan waktu dengan menggambar dan bermain boneka di rumah sakit. Namun, hingga kini dia masih bungkam dengan asal-usulnya dan tak bersedia menceritakan apa yang dialami kepada Agung.

Kekerasan fisik dan psikis yang dialami Meila, menurut Agung, cukup berat. Dalam kondisi ditinggal mati ibunya, dia hidup di jalanan tanpa kasih sayang. Dan pada saat yang sama kondisi kesehatannya terus menurun akibat serangan virus HIV/AIDS. "Bisa dibayangkan bagaimana penderitaan dia," kata Agung.

Saat kondisi kesehatannya membaik kelak, Agung berharap Meila bisa dirawat dan ditampung di panti asuhan khusus penderita orang dengan HIV/AIDS (ODHA) di Bogor atau Papua. Tempat itu dianggap paling tepat untuk Meila karena semua orang bisa menerimanya dengan baik. Sementara perlakuan tersebut tidak ada pada pengurus panti asuhan di Blitar dan kota lainnya.

Agung menambahkan keberadaan Meila ini juga mencuri perhatian kelompok tak jelas untuk mengadopsinya. Baru-baru ini dia menerima permintaan adopsi dari sebuah lembaga di Yogyakarta yang bermaksud mengadopsi Meila untuk dirawat. Namun, setelah ditelusuri dan berkomunikasi lebih jauh, Agung menduga kelompok ini adalah jaringan mistur (pengemis yang diatur). Mereka kerap mengadopsi anak-anak kecil yang sakit untuk dipekerjakan di kawasan wisata Candi Borobudur. Biasanya anak pengidap penyakit folio, gizi buruk, dan kelumpuhan menjadi sasaran utama mereka.

Hal ini dibenarkan juru bicara Rumah Sakit Mardi Waluyo Rita Triana. Sebelum menghubungi Agung, kelompok ini terlebih dulu mengontaknya untuk meminta hak pengasuhan Meila. Namun, Rita menyerahkan keputusan itu kepada Agung dan Dinas Sosial yang telah merawat Meila selama beberapa waktu terakhir. "Kami akan merujuknya ke panti asuhan resmi agar tak disalahgunakan kelompok tak jelas," kata Rita.

Sumberhttp://www.tempo.co




















HIV/AIDS Pada Bayi

Komnas PA
 300 Bayi di Jakarta terjangkit HIV

Ketua Komisi Perlindungan Anak (Komnas PA) Arist Merdeka Sirait menyebut, sebanyak 300 bayi maupun balita di Ibukota Jakarta telah terjangkit virus Human Immuno Virus dan Acquired Immunodeficiency Syndrome (HIV/AIDS).

Menurut Arist, angka ini terus meningkat di Indonesia terutama di kota besar. Bayi-bayi tidak berdosa itu telah tertular virus mematikan itu saat mereka masih dalam kandungan.

"Data dari Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) menyebutkan sedikitnya 300 balita di Ibukota yang terinfeksi virus HIV/ AIDS. Balita yang terinfeksi virus ini, rata-rata berusia satu hingga lima tahun. Mereka tertular virus mematikan itu saat mereka masih dalam kandungan," kata Arist, dalam siaran pers Laporan Tengah Tahun Komnas PA, yang diterima merdeka.com, jumat (19/8).

Tak hanya di Ibukota, Arist mengatakan, di beberapa daerah, pihaknya mencatat masih banyak bayi-bayi tak berdosa yang terinfeksi virus ini. Arist menjelaskan kebanyakan dari mereka yang terserang virus HIV/AIDS berasal dari keluarga kurang mampu.

"Sedikitnya 12 bayi di Kabupaten Jembrana terjangkit HIV/ AIDS. Sementara di Kediri, ditemukan setidaknya lima balita dan empat remaja yang terkena penyakit tersebut. Untuk empat remaja yang terdeteksi menderita HIV/AIDS termasuk dalam high risk men (HRM), yakni berasal dari kelompok lelaki suka lelaki atau gay," paparnya.

Arist menjelaskan, alur infeksi pada anak atau balita biasanya berasal saat menyusui dari ibu yang terinfeksi HIV/AIDS. Ibu yang terinfeksi seharusnya mengikuti terapi khusus agar anak tidak turut terinfeksi, atau yang disebut Prevention of Mother to Child Transmission.

"Dalam proses terapi ini, ibu hamil akan diberikan obat khusus yang tidak mengganggu proses janin. Ketika bayi lahir, juga harus diberikan tiga jenis obat retroviral, hingga sekitar berumur 2,5 tahun," terang Arist.

Sumberhttp://www.merdeka.com












Jumat, 04 April 2014

HIV/AIDS Di Belahan Dunia

HIV/AIDS di Indonesia


AIDS di Indonesia ditangani oleh Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Nasional
dan Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN)
dan memiliki Strategi Penanggulangan AIDS Nasional untuk wilayah Indonesia.

Ada 79 daerah prioritas di mana epidemi AIDS sedang meluas. Daerah tersebut
menjangkau delapan provinsi: Papua,Papua Barat, Sumatera Utara, Jawa Timur,
Jakarta, Kepulauan Riau, Jawa Barat, dan Jawa Tengah. Program-program 
penanggulangan AIDS menekankan pada pencegahan melalui perubahan 
perilaku dan melengkapi upaya pencegahan tersebut dengan layanan 
pengobatan dan perawatan. Program PEPFAR di Indonesia bekerja sama 
secara erat dengan saat ini. Sekitar 170.000 sampai 210.000 dari 220 juta 
penduduk Indonesia mengidap HIV/AIDS. Perkiraan prevalensi keseluruhan 
adalah 0,1% di seluruh negeri, dengan pengecualian Provinsi Papua, di mana 
angka epidemik diperkirakan mencapai 2,4%, dan cara penularan utamanya 
adalah melalui hubungan seksual tanpa menggunakan pelindung.

Jumlah kasus kematian akibat AIDS di Indonesia diperkirakan mencapai
5.500 jiwa. Epidemi tersebut terutama terkonsentrasi di kalangan pengguna 
obat terlarang melalui jarum suntik dan pasangan intimnya, orang yang 
berkecimpung dalam kegiatan prostitusi dan pelanggan mereka, dan pria 
yang melakukan hubungan seksual dengan sesama pria. Sejak 30 Juni 2007, 
42% dari kasus AIDS yang dilaporkan ditularkan melalui hubungan 
heteroseksual dan 53% melalui penggunaan obat terlarang.

Berikut adalah data Kementerian Kesehatan Indonesia mengenai kasus
HIV/AIDS di Indonesia hingga Maret 2013:
Jumlah orang yang terinfeksi HIV103759 orang
Jumlah pengidap AIDS43347 orang
Jumlah kematian karena HIV/AIDS8288 orang
Jumlah orang yang tertular HIV
(selama Januari-Maret 2013)
5369 orang
Jumlah orang yang terkena AIDS
(selama Januari-Maret 2013)
460 orang


                                                            HIV/AIDS di Asia

HIV/AIDS di Asia merupakan epidemik AIDS yang merebak di Asia. 
Jika dibandingkan dengan wilayah lain, terutama Afrika dan Amerika, 
tingkat HIV nasional di Asia Timur sangat kecil. Namun, karena populasi
besar banyak negara Asia Timur, jumlah HIV kecil ini dapat berarti 
jumlah besar orang yang hidup dengan HIV.


Orang yang hidup dengan HIV/AIDS di dunia.








                                                               
                                            
                                                                    
                           HIV/AIDS di India

Jumlah orang yang mengidap AIDS di India diperkirakan sekitar
2 hingga 3 juta orang. Negara ini mengalami penurunan tajam dalam 
jumlah infeksi HIV; laporan tahun 2005 mengklaim bahwa terdapat 
5.2 juta hingga 5.7 juta orang yang mengidap HIV. Perkiraan terbaru 
didukung oleh World Health Organization dan UNAIDS. Hal ini menjadikan
tingkat HIV di India berada dibawah banyak negara barat, termasuk 
Amerika SerikatKanadaItaliaPerancis dan Spanyol pada 0.36 persen.         


                             HIV/AIDS di Afrika

AIDS di Afrika adalah epidemik virus HIV/AIDS yang meluas di negara-negara
yang berada dibenua Afrika yang penyebarannya bervariasi satu sama lainnya.
Walaupun penyebaran penyakit ini tidak hanya di Afrika, namun nyatanya
Afrika adalah daerah yang paling terpengaruh dari penyebaran virus ini.
Benua Afrika didiami oleh 10% dari jumlah populasi dunia namun disaat
yang sama 60% dari jumlah populasinya mengidap AIDS.

Seorang guru sedang memberikan pelajaran tentang AIDS di depan kelas di Uganda
















         
WilayahPrevalensi pengidap
HIV dewasa
(umur 15-49)
Total kasus
HIV (0-49)
Kematian
akibat AIDS
tahun 2004
Sub-Sahara Afrika7,4%25.000.0002.300.000
Amerika Utara0,6%1.000.00016.000
Eropa Barat0,3%570.00016.000
Perbandingan HIV antar wilayah (Sumber: UNAID)

Apa itu HIV/AIDS?

    HIV/AIDS
Human Immunodeficiency Virus (HIV) / AIDS


AIDS adalah kondisi kronis mengancam nyawa yang disebabkan oleh virus HIV. HIV menyebabkan kemampuan tubuh anda menurun dalam melawan infeksi virus, bakteri dan jamur dengan merusak sistem imun. HIV juga menyebabkan anda lebih rentan mengalami kanker. Acquired immunodeficiency syndrome (AIDS) adalah istilah tahap selanjutnya dari infeksi HIV. 


Anatomy of the AIDS Virus
                                        


Virus HIV dapat menular melalui darah, air mani atau cairan vagina yang masuk ke dalam tubuh. Tetapi anda tidak akan terinfeksi dengan kontak fisik biasa, seperti berpelukan, berciuman, berdansa atau berjabat tangan dengan seseorang yang terinfeksi HIV atau AIDS. Jadi jangan kucilkan mereka. 

Gejala
Gejala HIV dan AIDS bervariasi berdasarkan fase infeksinya.


Main Symptoms of Acute HIV Infection


- Infeksi awal
Ketika infeksi HIV pertama, anda mungkin tidak akan mengalami tanda atau gejala apapun. Tetapi dalam beberapa minggu anda dapat mengalami:


  • Demam
  • Sakit kepala
  • Radang tenggorokan
  • Pembengkakan kelenjar limpa
  • Ruam


  • - Infeksi selanjutnya
    Anda mungkin tidak akan mengalami gejala apapun dalam waktu 8 sampai 9 tahun, atau bahkan lebih. Tapi seiring dengan virus yang melipatgandakan diri dan merusak sistem imun, anda mungkin akan mengalami infeksi ringan atau gejala kronis seperti:


  • Pembengkakan node limpa – sering merupakan tanda awal infeksi HIV
  • Diare
  • Hilang berat badan
  • Demam
  • Batuk atau napas yang pendek


  • - Infeksi tahap akhir
    Dalam waktu sekitar 10 tahun atau lebih setelah infeksi pertama, masalah yang lebih serius dapat terjadi dan diistilahkan dengan AIDS dan dapat terjadi:


  • Infeksi yang terjadi ketika sistem imun lemah, seperti pneumocystis carinii pneumonia (PCP)
  • Kadar CD4 lymphocyte 200 atau lebih rendah – normalnya adalah antara 800 sampai 1.200


  • Seiring dengan perkembangan AIDS, sistem imun anda telah mengalami kerusakan parah. Infeksi akan mudah terjadi. Tanda dan gejalanya adalah:


  • Berkeringat di malam hari
  • Menggigil atau demam lebih dari 38 Celcius untuk beberapa minggu
  • Batuk kering dan napas pendek
  • Diare kronis
  • Noda putih pada lidah atau mulut
  • Sakit kepala
  • Pandangan kabur
  • Hilang berat badan


  • Anda juga dapat mengalami tanda dan gejala pada tahap lanjut infeksi virus HIV itu sendiri, seperti:


  • Rasa lelah yang tidak hilang dan tidak terjelaskan
  • Berkeringat pada malam hari
  • Menggigil atau demam tinggi untuk beberapa minggu
  • Pembengkakan node limpa lebih dari tiga bulan
  • Diare kronis
  • Sakit kepala yang tidak hilang


  • Jika anda terinfeksi virus HIV, anda juga lebih rentan mengalami kanker, khususnya kanker servik, lymphoma dan Kaposi’s sarcoma.

    - Gejala HIV pada anak-anak
    Anak-anak dengan HIV positif dapat mengalami:


  • Sulit menambah berat badan
  • Sulit berkembang secara normal
  • Sulit berjalan
  • Penundaan perkembangan mental
  • Dapat mengalami infeksi telinga, pneumonia dan tonsilis


  • Penyebab & Faktor Risiko

    Penyebab:

    Normalnya sel darah putih dan antibodi menyerang dan menghancurkan organism easing yang masuk ke dalam tubuh. Respon ini diatur oleh sel darah putih bernama limposit CD4. Limposit ini juga merupakan target utama HIV. Sekali masuk ke dalam tubuh, virus memasukkna material genetiknya ke dalam limposit dan melipatgandakan diri. 
    Ketika salinan virus baru keluar dari sel induk dan masuk ke dalam aliran darah, virus akan menyerang sel lain. Sebagai efeknya sel CD4 akan mati. Siklus ini terus berulang. Pada akhirnya menyebabkan kerusakan sistem imun yang berarti tubuh tidak akan mempu melawan infeksi bakteri dan virus lain. 

    Faktor risiko 
    Faktor risiko terinfeksi AIDS antara lain:


  • Tidak memakai pelindung ketika melakukan hubungan seksual dengan lebih dari satu pasangan
  • Tidak memakai pelindung ketika melakukan hubungan seksual dengan orang dengan HIV positif
  • Memiliki penyakit menular seksual lain seperti syphilis, herpes, chlamydia, gonorrhea atau bacterial       vaginosis
  • Bergantian dalam memakai jarum suntik
  • Mendapatkan transfusi darah yang terinfeksi virus HIV
  • Memiliki sedikit salinan gen CCL3L1 yang membantu melawan infeksi HIV
  • Ibu yang memiliki HIV


  • Pencegahan

    Tidak ada vaksin untuk mencegah infeksi HIV dan tidak ada penyembuh untuk AIDS. Jaga kesehatan dan lindungi diri anda dari faktor-faktor risiko adalah jalan terbaik. 
    Jika anda HIV negatif maka tindakan yang terbaik adalah:


  • Ketahui apa itu HIV dan bagaimana penularannya
  • Ketahui status kesehatan pasangan seksual anda
  • Gunakan kondom setiap kali melakukan hubungan seksual
  • Pertimbangan untuk melakukan penyunatan pada laki-laki
  • Gunakan jarum suntik steril
  • Waspada terhadap darah transfusi
  • Periksakan kesehatan secara teratur


  • Jika anda positif mengidap HIV maka anda harus melindungi orang di sekeliling anda dengan:


  • Lakukan hubungan seksual yang aman dengan memakai kondom
  • Beritahukan pasangan anda bahwa anda mengidap HIV
  • Jika pasangan anda hamil, beritahukan bahwa anda mengidap HIV dan lakukan perawatan untuk         menjaga kesehatannya dan bayinya
  • Katakan kepada orang lain yang anda rasa perlu untuk tahu bahwa anda mengidap HIV
  • Jangan berbagi jarum suntik
  • Jangan donorkan darah dan organ anda
  • Jangan berbagi pisau cukur atau sikat gigi
  • Jika anda hamil, ambil perawatan medis secepatnya